‘The Odyssey’ karya Christopher Nolan dinilai gagal menampilkan sosok perempuan HomerAllison Glazebrook, Brock University
Benarkah praktik beragama di media sosial mengurangi substansi keagamaan?Faiz Badridduja, Universitas Andalas
Film The Odyssey versi Nolan: Memukau dan mendebarkan, tapi tetap tidak sempurnaAnthony Macris, University of Technology Sydney
Untuk apa sebenarnya pendidikan? Alasan K-Drama ‘Teach You a Lesson’ ramai ditontonYanyan Hong, Adelaide University
‘AI influencer’: Ancaman privasi data dan pemalsuan identitas di balik tren baruRianda Dirkareshza, UPN Veteran Jakarta
Benarkah dunia dilanda epidemi kesepian? Riset tunjukkan realitanya lebih kompleksDennis Wesselbaum, University of Otago dan David Leblang, University of Virginia
Sudah tahu keliru, tapi tetap diulang: Alasan di balik kesalahan berpikir kitaLury Sofyan, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Di tengah dunia yang ‘sepi’, maraknya ‘teman AI’ bawa risiko mental bahkan nyawaDaniel You, University of Sydney; Micah Boerma, University of Southern Queensland, dan Yuen Siew Koo, Macquarie University
Cara membahas masalah tanpa menimbulkan pertengkaran: Tip dari ahliJessica Robles, Loughborough University
Cemas saat berulang tahun? Simak tip psikolog untuk hadapi ‘birthday blues’Jolanta Burke, RCSI University of Medicine and Health Sciences
Mahir bahasa asing saja tidak cukup, komunikasi antarbudaya lebih diperlukan untuk cari kerjaBilly Nathan Setiawan, CQUniversity Australia dan Elga Ahmad Prayoga, La Rochelle Université
Nasib anak-anak dan kaum muda marginal di Indonesia: Rentan terdampak iklim tapi tidak menyadarinyaWidi Laras Sari, PUSKAPA dan Haratua Zosran Abednego
Hadapi rentannya emosi remaja, sekolah perlu kembangkan ekosistem empatiCharyna Ayu Rizkyanti, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Kalau AI bisa instan menerjemahkan, buat apa belajar bahasa asing?Olivia Maurice, Western Sydney University; University of Sydney dan Mark Antoniou, Western Sydney University
Setop bilang ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ ke ChatGPT bisa selamatkan Bumi? Faktanya tak sesederhana ituRichard Morris, Lincoln University, New Zealand