Ironi pernyataan presiden: Perlukah kita belajar bahasa Prancis di tengah krisis literasi?Idham Raharfian, Université catholique de Louvain (UCLouvain)
‘AI influencer’: Ancaman privasi data dan pemalsuan identitas di balik tren baruRianda Dirkareshza, UPN Veteran Jakarta
Dari ‘keyboard’ ke EDM: Bagaimana subkultur ‘jedag-jedug’ membangun jalur musik elektronik di IndonesiaMuhammad Rayhan Sudrajat, The University of Melbourne
Apakah kita lebih mudah menyerap informasi dari kertas ketimbang layar? Tergantung jenis layarnyaErik D Reichle, Macquarie University dan Lili Yu, Macquarie University
Riset media sosial di 43 negara: Bahaya kesehatan mental mengintai remaja kurang mampuRoger Fernandez-Urbano, Universitat de Barcelona; Maria Rubio-Cabañez, Universitat Autònoma de Barcelona, dan Pablo Gracia, Universitat Autònoma de Barcelona
Toleransi di ruang digital: Bagaimana tayangan Youtube ‘Login’ menggeser metode dakwah konvensionalAnwar Kurniawan, Institut Seni Indonesia Surakarta dan Syafawi Ahmad Qadzafi
Di tengah dunia yang ‘sepi’, maraknya ‘teman AI’ bawa risiko mental bahkan nyawaDaniel You, University of Sydney; Micah Boerma, University of Southern Queensland, dan Yuen Siew Koo, Macquarie University
Cara membahas masalah tanpa menimbulkan pertengkaran: Tip dari ahliJessica Robles, Loughborough University
Cemas saat berulang tahun? Simak tip psikolog untuk hadapi ‘birthday blues’Jolanta Burke, RCSI University of Medicine and Health Sciences
Demotivasi bukan kemalasan: Pahami sinyal psikologis yang satu iniNur'aini Azizah, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Nasib anak-anak dan kaum muda marginal di Indonesia: Rentan terdampak iklim tapi tidak menyadarinyaWidi Sari, PUSKAPA dan Haratua Zosran Abednego
Hadapi rentannya emosi remaja, sekolah perlu kembangkan ekosistem empatiCharyna Ayu Rizkyanti, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Tak hanya akurat tapi harus menghibur: Preferensi informasi ala Gen ZRatna Puspita, Universitas Pembangunan Jaya
Realita ‘freelance’ pekerja kreatif: Banyak kerja sambilan, minim perlindunganHeidi Ashton, University of Warwick
Kalau AI bisa instan menerjemahkan, buat apa belajar bahasa asing?Olivia Maurice, Western Sydney University; University of Sydney dan Mark Antoniou, Western Sydney University
Setop bilang ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ ke ChatGPT bisa selamatkan Bumi? Faktanya tak sesederhana ituRichard Morris, Lincoln University, New Zealand