Blunder Dewan Perdamaian cerminan diplomasi nirkaidah ala PrabowoRizky Banyualam Permana, Universitas Indonesia
Bahaya normalisasi doksing: Warganet bisa kebablasan jadi ‘hakim’ moralPrawinda Putri Anzari, Queensland University of Technology; Universitas Negeri Malang
Bukan lagi kemanusiaan, Prabowo ingin diplomasi Indonesia fokus pada ketahananRizka Fiani Prabaningtyas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Atin Prabandari, Universitas Gadjah Mada , dan Fauzia G. Cempaka Timur, Indonesian Defence University
Pengangkatan pegawai MBG jadi ASN bukti negara tak adil terhadap guru dan tenaga kesehatanFarieda Ilhami Zulaikha, University of Sydney
Bisakah warga menggugat pemerintah atas bencana di Sumatra?Sahid Hadi, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Rezim Prabowo: Politik maskulin paternalistik, kesetaraan gender hanya omon-omonMuhammad Ammar Hidayahtulloh, Radboud University dan Fadhilah Fitri Primandari, University of Essex
Belajar agama di Roblox: Inovasi dakwah yang mengaburkan realitas beragamaFarisha Sestri Musdalifah, The University of Queensland; Universitas Sriwijaya dan Annisa Rahmawati, Universitas Sriwijaya
Mengapa perempuan menikah di Indonesia harus berani bernegosiasi seksual?Marya Yenita Sitohang, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Riza Fatma Arifa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
2025: Tahun kelam bagi pers dan ilmu pengetahuan akibat pemerintahEka Nugraha Putra, National University of Singapore
Politik ‘pembinaan’: Bagaimana olahraga jadi alat pemerintah mengontrol wargaHysa Ardiyanto, Universitas Pendidikan Indonesia
Di balik penangkapan Maduro: AS ingin lebih bebas, tapi dunia yang menanggung risikonyaAtin Prabandari, Universitas Gadjah Mada dan Arief Bakhtiar Darmawan, Universitas Jenderal Soedirman
Mempertanyakan komitmen Prabowo terhadap Palestina: Dua kaki kebijakan luar negeri IndonesiaAzifah Astrina, University of Illinois at Urbana-Champaign
Gagal mendamaikan: ASEAN memang dirancang bukan untuk menyelesaikan konflik regionalAniello Iannone, Universitas Diponegoro
Buntut ketegangan Trump-Zelensky: Akan seperti apa hubungan AS dengan Ukraina, Eropa, dan global?Ayu Anastasya Rachman, Universitas Bina Mandiri Gorontalo
Pengungsi internal di Papua hadapi kerentanan berlapis - 3 langkah mengoptimalkan perlindungan sosial bagi merekaSylvia Andriyani Kusumandari, SMERU Research Institute dan Asep Kurniawan, SMERU Research Institute
Salah langkah pemerintah urus Papua: pendekatan keadilan sosial bisa jadi solusiAlfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Universitas Gadjah Mada ; Daud Arie Ristiyono, Universitas Gadjah Mada , dan Reza Fajar Raynaldi, Universitas Gadjah Mada
Riset: kelompok separatisme dominasi aksi kekerasan di Papua sejak 2010, pemerintah perlu introspeksi diriAlfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Universitas Gadjah Mada
Puluhan tahun menjadi bagian dari Indonesia, mengapa tranformasi digital dan kesejahteraan di Papua masih jauh tertinggal?Ibnu Nugroho, Universitas Gadjah Mada
Kekerasan ekonomi: KDRT tersembunyi yang sangat merusak perempuanDini Dwi Kusumaningrum, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Dina Ika Kusumaningsih, dan Fikri Muslim, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Jebakan WFH dan kerja fleksibel yang justru menciptakan ‘burnout’Fitri Arlinkasari, Universitas Yarsi; Melok Roro Kinanthi, Universitas Yarsi, dan Sari Zakiah Akmal, Universitas Yarsi
Bunuh diri remaja bukti kegagalan sistem pendidikan, politik, dan lingkungan sosialAri Ganjar Herdiansah, Universitas Padjadjaran
‘Father hunger’ lebih mengganggu perkembangan emosional anak dibandingkan ‘Fatherless’Resti Pujihasvuty, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)