Sujud di sela dentum musik: Cara kaum muda menikmati hiburan tanpa meninggalkan ibadahM.Febriyanto Firman Wijaya, Universitas Muhammadiyah Surabaya
Aksi kritis di media sosial kian masif, tapi kurang memberikan perubahan nyataLalu Ary Kurniawan Hardi, Universitas Airlangga
Solidaritas terhadap demonstran mencerminkan keresahan publik terhadap kondisi negaraSeptian Bayu Kristanto, Universitas Kristen Krida Wacana
Di balik emoji: Seperti apa bahasa politik warganet dalam merespons pidato Prabowo?Ika Karlina Idris, Monash University; Nala Edwin Widjaja, London School of Public Relation (LSPR) Jakarta, dan Nurul Amalia, Monash University
Ketika negara kehilangan empati: Meriahnya perayaan kemerdekaan di tengah duka bencanaFebby R. Widjayanto, Universitas Airlangga
Biometrik jadi syarat registrasi kartu seluler: Siapkah Indonesia melindungi data wajah warganya?M. Yusuf Samad, Universitas Hasanuddin
Kasus Taufik Hidayat: Menguak lahirnya ‘monster’ akibat moral publik yang rusakRino Putama, The Conversation
B50 bisa mengulang krisis minyak goreng 2022 dan perempuanlah yang paling dirugikanHariati Sinaga, Universitas Indonesia
Tes jenis kelamin atlet untuk melarang transgender justru berisiko menggagalkan perempuan interseks ikut olimpiadeAri Berkowitz, University of Oklahoma
Bukan salah agama: Korupsi berulang di Kementerian Agama adalah akibat lemahnya tata kelola institusiRudi Syaf Putra, Universiti Malaysia Terengganu
Mengapa penangkapan tersangka tak cukup membuat publik percaya pemberantasan korupsi?Zainal Abidin, Universitas Padjadjaran
Drama Polri vs Kejaksaan: Konflik ego lembaga dan krisis etika kenegaraanFebby R. Widjayanto, Universitas Airlangga
Dari ‘komunis’ hingga ‘antek asing’: Mengapa pemerintah kerap memberikan label negatif ke pengkritiknya?Andhik Beni Saputra, Universitas Andalas dan Zulfadli, Universitas Andalas
Kontroversi Artjog 2026: Saat oligarki masuk ruang seni, apa kabar independensi budaya?M.Febriyanto Firman Wijaya, Universitas Muhammadiyah Surabaya
Bukan sekadar sensor: Apa arti dipotongnya pidato Prabowo soal nuklir Iran?Dr. Aniello Iannone, Universitas Diponegoro
Diplomasi mendadak Prabowo jadi mediator AS - Iran: Langkah berani atau cari panggung?Muhammad Iqbal Yunazwardi, Universitas Sriwijaya dan Sabda Ningsih, Universitas Sriwijaya
Di balik penangkapan Maduro: AS ingin lebih bebas, tapi dunia yang menanggung risikonyaAtin Prabandari, Universitas Gadjah Mada dan Arief Bakhtiar Darmawan, Universitas Jenderal Soedirman
Mempertanyakan komitmen Prabowo terhadap Palestina: Dua kaki kebijakan luar negeri IndonesiaAzifah Astrina, University of Illinois Urbana-Champaign
Pengungsi internal di Papua hadapi kerentanan berlapis - 3 langkah mengoptimalkan perlindungan sosial bagi merekaSylvia Andriyani Kusumandari, SMERU Research Institute dan Asep Kurniawan, SMERU Research Institute
Salah langkah pemerintah urus Papua: pendekatan keadilan sosial bisa jadi solusiAlfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Universitas Gadjah Mada ; Daud Arie Ristiyono, Universitas Gadjah Mada , dan Reza Fajar Raynaldi, Universitas Gadjah Mada
Riset: kelompok separatisme dominasi aksi kekerasan di Papua sejak 2010, pemerintah perlu introspeksi diriAlfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Universitas Gadjah Mada
Puluhan tahun menjadi bagian dari Indonesia, mengapa tranformasi digital dan kesejahteraan di Papua masih jauh tertinggal?Ibnu Nugroho, Universitas Gadjah Mada
Di balik jeruji penjara, ada keluarga yang ikut menjalani hukumanHestu Prahara, Universitas Indonesia
Akun Cabinet Couture: Mengapa busana pejabat menjadi persoalan politik?Zainal Abidin, Universitas Padjadjaran
Sibuk kejar medali, akses warganya terabaikan: Potret kurangnya fasilitas olahraga di IndonesiaRizky Sugianto Putri, Universitas Airlangga dan Agie Nugroho Soegiono, Universitas Airlangga
Rencana bansos tunai Rp5,4 juta per orang, mampukah AI menyasar kelompok yang tepat?Jonathan Farez Satyadharma, SMERU Research Institute