Terpaksa nyawit di tengah karhutla, buruh perempuan menanggung beban berlapisHariati Sinaga, Universitas Indonesia
Kredibilitas Indonesia diuji saat bencana dan asap karhutla melintasi batas negaraJessica Martha, Universitas Katolik Parahyangan
Fasilitas ada, tapi sulit diakses: Mengapa pelayanan publik ramah difabel masih langka di IndonesiaMuhammad Dzulfikar Al Ghofiqi, Universitas Airlangga
Darurat bencana jadi ruang korupsi akibat 4 celah penyelewengan iniRudi Syaf Putra, Universiti Malaysia Terengganu
4 poin revisi UU Penyiaran yang mengancam kebebasan pers dan media sosialSenja Yustitia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Nobel Perdamaian untuk Navi Pillay menjadi bentuk dukungan terhadap tatanan hukum global yang tengah mendapat tekananFrans Viljoen, University of Pretoria
Biometrik jadi syarat registrasi kartu seluler: Siapkah Indonesia melindungi data wajah warganya?M. Yusuf Samad, Universitas Hasanuddin
Kasus Taufik Hidayat: Menguak lahirnya ‘monster’ akibat moral publik yang rusakRino Putama, The Conversation
B50 bisa mengulang krisis minyak goreng 2022 dan perempuanlah yang paling dirugikanHariati Sinaga, Universitas Indonesia
Tes jenis kelamin atlet untuk melarang transgender justru berisiko menggagalkan perempuan interseks ikut olimpiadeAri Berkowitz, University of Oklahoma
Ketidakbecusan pemerintah dalam mengurus bencana memengaruhi narasi kemerdekaan di AcehAzifah Astrina, University of Illinois Urbana-Champaign; Universitas Gadjah Mada
Ketika negara gagal menjamin rasa aman, warga bisa melihat pemerintah sebagai ancamanNuke Faridha Wardhani, Universitas Airlangga dan Alfin Febrian Basundoro, Universitas Airlangga
Mengapa penangkapan tersangka tak cukup membuat publik percaya pemberantasan korupsi?Zainal Abidin, Universitas Padjadjaran
Drama Polri vs Kejaksaan: Konflik ego lembaga dan krisis etika kenegaraanFebby R. Widjayanto, Universitas Airlangga
Bukan sekadar sensor: Apa arti dipotongnya pidato Prabowo soal nuklir Iran?Aniello Iannone, Universitas Diponegoro
Diplomasi mendadak Prabowo jadi mediator AS - Iran: Langkah berani atau cari panggung?Muhammad Iqbal Yunazwardi, Universitas Sriwijaya dan Sabda Ningsih, Universitas Sriwijaya
Di balik penangkapan Maduro: AS ingin lebih bebas, tapi dunia yang menanggung risikonyaAtin Prabandari, Universitas Gadjah Mada dan Arief Bakhtiar Darmawan, Universitas Jenderal Soedirman
Mempertanyakan komitmen Prabowo terhadap Palestina: Dua kaki kebijakan luar negeri IndonesiaAzifah Astrina, University of Illinois Urbana-Champaign
Pengungsi internal di Papua hadapi kerentanan berlapis - 3 langkah mengoptimalkan perlindungan sosial bagi merekaSylvia Andriyani Kusumandari, SMERU Research Institute dan Asep Kurniawan, SMERU Research Institute
Salah langkah pemerintah urus Papua: pendekatan keadilan sosial bisa jadi solusiAlfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Universitas Gadjah Mada ; Daud Arie Ristiyono, Universitas Gadjah Mada , dan Reza Fajar Raynaldi, Universitas Gadjah Mada
Riset: kelompok separatisme dominasi aksi kekerasan di Papua sejak 2010, pemerintah perlu introspeksi diriAlfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Universitas Gadjah Mada
Puluhan tahun menjadi bagian dari Indonesia, mengapa tranformasi digital dan kesejahteraan di Papua masih jauh tertinggal?Ibnu Nugroho, Universitas Gadjah Mada
Di balik jeruji penjara, ada keluarga yang ikut menjalani hukumanHestu Prahara, Universitas Indonesia
Akun Cabinet Couture: Mengapa busana pejabat menjadi persoalan politik?Zainal Abidin, Universitas Padjadjaran
Sibuk kejar medali, akses warganya terabaikan: Potret kurangnya fasilitas olahraga di IndonesiaRizky Sugianto Putri, Universitas Airlangga dan Agie Nugroho Soegiono, Universitas Airlangga
Rencana bansos tunai Rp5,4 juta per orang, mampukah AI menyasar kelompok yang tepat?Jonathan Farez Satyadharma, SMERU Research Institute