Drama Polri vs Kejaksaan: Konflik ego lembaga dan krisis etika kenegaraanFebby R. Widjayanto, Universitas Airlangga
74 kg emas kasus korupsi disita polisi, tapi negara belum tentu bisa merampasnyaSyahril Ramadhan, Universitas Pancasila
Warga Indonesia mendukung demokrasi, tapi juga menerima pembatasan kebebasan sipil oleh negaraAurelia Ananda, Griffith University dan Elghafiky Bimardhika, Bahana
Siapa yang seharusnya menasihati presiden? Pentingnya ‘brain trust’ di tengah risiko krisisFebby R. Widjayanto, Universitas Airlangga
Kasus MBG menunjukkan bagaimana pemerintah mengontrol informasi untuk membenarkan kebijakanSamiaji Bintang Nusantara, Universitas Multimedia Nusantara dan Muhammad Iqbal
Dari ‘komunis’ hingga ‘antek asing’: Mengapa pemerintah kerap memberikan label negatif ke pengkritiknya?Andhik Beni Saputra, Universitas Andalas dan Zulfadli, Universitas Andalas
Kasus Taufik Hidayat: Menguak lahirnya ‘monster’ akibat moral publik yang rusakRino Putama, The Conversation
B50 bisa mengulang krisis minyak goreng 2022 dan perempuanlah yang paling dirugikanHariati Sinaga, Universitas Indonesia
Tes jenis kelamin atlet untuk melarang transgender justru berisiko menggagalkan perempuan interseks ikut olimpiadeAri Berkowitz, University of Oklahoma
Bukan salah agama: Korupsi berulang di Kementerian Agama adalah akibat lemahnya tata kelola institusiRudi Syaf Putra, Universiti Malaysia Terengganu
Kontroversi Artjog 2026: Saat oligarki masuk ruang seni, apa kabar independensi budaya?M.Febriyanto Firman Wijaya, Universitas Muhammadiyah Surabaya
Di balik akun bodong, ada ancaman doksing yang melemahkan demokrasiM. Yusuf Samad, Universitas Hasanuddin
Teror aktivis HAM kian ganas dan meluas, inikah saatnya PBB lebih serius memantau Indonesia?Abdul Munif Ashri, Universitas Hasanuddin
‘Child grooming’: Kejahatan berbasis relasi kuasa yang membahayakan anakGladys Nadya Arianto, Indonesia Judicial Research Society
Diplomasi mendadak Prabowo jadi mediator AS - Iran: Langkah berani atau cari panggung?Muhammad Iqbal Yunazwardi, Universitas Sriwijaya dan Sabda Ningsih, Universitas Sriwijaya
Di balik penangkapan Maduro: AS ingin lebih bebas, tapi dunia yang menanggung risikonyaAtin Prabandari, Universitas Gadjah Mada dan Arief Bakhtiar Darmawan, Universitas Jenderal Soedirman
Mempertanyakan komitmen Prabowo terhadap Palestina: Dua kaki kebijakan luar negeri IndonesiaAzifah Astrina, University of Illinois Urbana-Champaign
Gagal mendamaikan: ASEAN memang dirancang bukan untuk menyelesaikan konflik regionalDr. Aniello Iannone, Universitas Diponegoro
Pengungsi internal di Papua hadapi kerentanan berlapis - 3 langkah mengoptimalkan perlindungan sosial bagi merekaSylvia Andriyani Kusumandari, SMERU Research Institute dan Asep Kurniawan, SMERU Research Institute
Salah langkah pemerintah urus Papua: pendekatan keadilan sosial bisa jadi solusiAlfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Universitas Gadjah Mada ; Daud Arie Ristiyono, Universitas Gadjah Mada , dan Reza Fajar Raynaldi, Universitas Gadjah Mada
Riset: kelompok separatisme dominasi aksi kekerasan di Papua sejak 2010, pemerintah perlu introspeksi diriAlfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Universitas Gadjah Mada
Puluhan tahun menjadi bagian dari Indonesia, mengapa tranformasi digital dan kesejahteraan di Papua masih jauh tertinggal?Ibnu Nugroho, Universitas Gadjah Mada
Sibuk kejar medali, akses warganya terabaikan: Potret kurangnya fasilitas olahraga di IndonesiaRizky Sugianto Putri, Universitas Airlangga dan Agie Nugroho Soegiono, Universitas Airlangga
Rencana bansos tunai Rp5,4 juta per orang, mampukah AI menyasar kelompok yang tepat?Jonathan Farez Satyadharma, SMERU Research Institute
Cuma ‘nyuci-ngepel’: Bagaimana bias gender melanggengkan eksploitasi PRT di IndonesiaNabiyla Risfa Izzati, Universitas Gadjah Mada
Sederhana tapi menjebak: Bahaya tersembunyi konsep ‘love language’ dalam hubunganMaha Khawaja, McMaster University