Negara vs media: Bagaimana pemerintah menyabotase kerja pers demi mengendalikan informasiSenja Yustitia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Cuma ‘nyuci-ngepel’: Bagaimana bias gender melanggengkan eksploitasi PRT di IndonesiaNabiyla Risfa Izzati, Universitas Gadjah Mada
Menguji kepemimpinan Prabowo: Kenapa mental sipil cendekia lebih dibutuhkan dibandingkan militerFebby R. Widjayanto, Universitas Airlangga
Aksi seksisme di ruang digital memiliki pola tersendiri yang bisa kita pahamiSepita Hatami, Western University
‘Blanket overflight’ pesawat militer AS: Pertaruhan kedaulatan “bebas aktif” Indonesia?Garry Pratama, Universitas Padjadjaran
Kasus Amsal Sitepu bukti birokrasi dan hukum gagal memahami sektor kreatifKlara Esti, Centre for Innovation Policy and Governance
Tes jenis kelamin atlet untuk melarang transgender justru berisiko menggagalkan perempuan interseks ikut olimpiadeAri Berkowitz, University of Oklahoma
Bukan salah agama: Korupsi berulang di Kementerian Agama adalah akibat lemahnya tata kelola institusiRudi Syaf Putra, Universiti Malaysia Terengganu
Bisakah warga menggugat pemerintah atas bencana di Sumatra?Sahid Hadi, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Rezim Prabowo: Politik maskulin paternalistik, kesetaraan gender hanya omon-omonMuhammad Ammar Hidayahtulloh, Radboud University dan Fadhilah Fitri Primandari, University of Essex
Teror aktivis HAM kian ganas dan meluas, inikah saatnya PBB lebih serius memantau Indonesia?Abdul Munif Ashri, Universitas Hasanuddin
‘Child grooming’: Kejahatan berbasis relasi kuasa yang membahayakan anakGladys Nadya Arianto, Indonesia Judicial Research Society
Mencegah tumpang tindih Polisi dan TNI dalam terorisme melalui pembagian level ancamanMarthsian Y. Anakotta, Universitas Kristen Satya Wacana
4 ribu ASN dijadikan komponen cadangan: Keharusan atau militerisasi?Rahadian Diffaul Barraq Suwartono, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Diplomasi mendadak Prabowo jadi mediator AS - Iran: Langkah berani atau cari panggung?Muhammad Iqbal Yunazwardi, Universitas Sriwijaya dan Sabda Ningsih, Universitas Sriwijaya
Di balik penangkapan Maduro: AS ingin lebih bebas, tapi dunia yang menanggung risikonyaAtin Prabandari, Universitas Gadjah Mada dan Arief Bakhtiar Darmawan, Universitas Jenderal Soedirman
Mempertanyakan komitmen Prabowo terhadap Palestina: Dua kaki kebijakan luar negeri IndonesiaAzifah Astrina, University of Illinois at Urbana-Champaign
Gagal mendamaikan: ASEAN memang dirancang bukan untuk menyelesaikan konflik regionalDr. Aniello Iannone, Universitas Diponegoro
Pengungsi internal di Papua hadapi kerentanan berlapis - 3 langkah mengoptimalkan perlindungan sosial bagi merekaSylvia Andriyani Kusumandari, SMERU Research Institute dan Asep Kurniawan, SMERU Research Institute
Salah langkah pemerintah urus Papua: pendekatan keadilan sosial bisa jadi solusiAlfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Universitas Gadjah Mada ; Daud Arie Ristiyono, Universitas Gadjah Mada , dan Reza Fajar Raynaldi, Universitas Gadjah Mada
Riset: kelompok separatisme dominasi aksi kekerasan di Papua sejak 2010, pemerintah perlu introspeksi diriAlfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Universitas Gadjah Mada
Puluhan tahun menjadi bagian dari Indonesia, mengapa tranformasi digital dan kesejahteraan di Papua masih jauh tertinggal?Ibnu Nugroho, Universitas Gadjah Mada
Sederhana tapi menjebak: Bahaya tersembunyi konsep ‘love language’ dalam hubunganMaha Khawaja, McMaster University
Kangen Lebaran masa kecil: Ada ketimpangan di balik nostalgia hari rayaKhumaid Akhyat Sulkhan, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Dari aib jadi ‘topik’: Bagaimana media sosial jadi ruang harapan bagi penyintas kekerasan seksualAlia Azmi, Universitas Bengkulu
Kekerasan ekonomi: KDRT tersembunyi yang sangat merusak perempuanDini Dwi Kusumaningrum, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Dina Ika Kusumaningsih, dan Fikri Muslim, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)