Di balik akun bodong, ada ancaman doksing yang melemahkan demokrasiM. Yusuf Samad, Universitas Hasanuddin
Krisis air pascabencana di Aceh: Persoalan teknis pun jadi beban ganda perempuanNanda Savira Ersa, Universitas Malikussaleh
Mengapa program pemerintah sering gagal mengubah perilaku masyarakat?Anhar Dana Putra, Politeknik STIA LAN Makassar
Orang Laut di Indonesia vs Malaysia: Beda negara, beda cara pengakuanDedi Arman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Terjebak ‘tradwife’ dan ‘feminine energy’: Tren yang membatasi dan mengontrol perempuanFitri Hariana Oktaviani, Universitas Brawijaya
B50 bisa mengulang krisis minyak goreng 2022 dan perempuanlah yang paling dirugikanHariati Sinaga, Universitas Indonesia
Tes jenis kelamin atlet untuk melarang transgender justru berisiko menggagalkan perempuan interseks ikut olimpiadeAri Berkowitz, University of Oklahoma
Bukan salah agama: Korupsi berulang di Kementerian Agama adalah akibat lemahnya tata kelola institusiRudi Syaf Putra, Universiti Malaysia Terengganu
Bisakah warga menggugat pemerintah atas bencana di Sumatra?Sahid Hadi, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Rezim Prabowo: Politik maskulin paternalistik, kesetaraan gender hanya omon-omonMuhammad Ammar Hidayahtulloh, Radboud University dan Fadhilah Fitri Primandari, University of Essex
Teror aktivis HAM kian ganas dan meluas, inikah saatnya PBB lebih serius memantau Indonesia?Abdul Munif Ashri, Universitas Hasanuddin
‘Child grooming’: Kejahatan berbasis relasi kuasa yang membahayakan anakGladys Nadya Arianto, Indonesia Judicial Research Society
Mencegah tumpang tindih Polisi dan TNI dalam terorisme melalui pembagian level ancamanMarthsian Y. Anakotta, Universitas Kristen Satya Wacana
4 ribu ASN dijadikan komponen cadangan: Keharusan atau militerisasi?Rahadian Diffaul Barraq Suwartono, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Diplomasi mendadak Prabowo jadi mediator AS - Iran: Langkah berani atau cari panggung?Muhammad Iqbal Yunazwardi, Universitas Sriwijaya dan Sabda Ningsih, Universitas Sriwijaya
Di balik penangkapan Maduro: AS ingin lebih bebas, tapi dunia yang menanggung risikonyaAtin Prabandari, Universitas Gadjah Mada dan Arief Bakhtiar Darmawan, Universitas Jenderal Soedirman
Mempertanyakan komitmen Prabowo terhadap Palestina: Dua kaki kebijakan luar negeri IndonesiaAzifah Astrina, University of Illinois Urbana-Champaign
Gagal mendamaikan: ASEAN memang dirancang bukan untuk menyelesaikan konflik regionalDr. Aniello Iannone, Universitas Diponegoro
Pengungsi internal di Papua hadapi kerentanan berlapis - 3 langkah mengoptimalkan perlindungan sosial bagi merekaSylvia Andriyani Kusumandari, SMERU Research Institute dan Asep Kurniawan, SMERU Research Institute
Salah langkah pemerintah urus Papua: pendekatan keadilan sosial bisa jadi solusiAlfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Universitas Gadjah Mada ; Daud Arie Ristiyono, Universitas Gadjah Mada , dan Reza Fajar Raynaldi, Universitas Gadjah Mada
Riset: kelompok separatisme dominasi aksi kekerasan di Papua sejak 2010, pemerintah perlu introspeksi diriAlfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Universitas Gadjah Mada
Puluhan tahun menjadi bagian dari Indonesia, mengapa tranformasi digital dan kesejahteraan di Papua masih jauh tertinggal?Ibnu Nugroho, Universitas Gadjah Mada
Cuma ‘nyuci-ngepel’: Bagaimana bias gender melanggengkan eksploitasi PRT di IndonesiaNabiyla Risfa Izzati, Universitas Gadjah Mada
Sederhana tapi menjebak: Bahaya tersembunyi konsep ‘love language’ dalam hubunganMaha Khawaja, McMaster University
Kangen Lebaran masa kecil: Ada ketimpangan di balik nostalgia hari rayaKhumaid Akhyat Sulkhan, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Dari aib jadi ‘topik’: Bagaimana media sosial jadi ruang harapan bagi penyintas kekerasan seksualAlia Azmi, Universitas Bengkulu