‘Mein Kampf’ Hitler dan teknik kambing hitam dalam narasi antek asingMartinus Ariya Seta, Universitas Sanata Dharma
‘Slow science’ lebih cocok untuk riset bidang sosial humaniora di IndonesiaPutu Sukma Kurniawan, Universitas Pendidikan Ganesha dan M. Fasha Rouf, The University of Queensland
Laki-laki kembali mendominasi Grammy 2026, jumlah pemenang perempuan merosot tajamLuba Kassova, University of Westminster
Paradoks pendidikan guru: Cemas soal kesejahteraan, mahasiswa enggan mengajar setelah lulusA. MUH. ALI, Universitas Negeri Makassar
Negara minta guru jadi konselor: Tak adil bagi guru, tak aman buat siswaFarieda Ilhami Zulaikha, University of Sydney dan Mirah Mahaswari, Monash University
Bencana membuat anak rentan putus sekolah. Apa solusinya menurut riset?Lolita Moorena, Australian National University dan Elghafiky Bimardhika, Australian National University
Prabowo ingin terapkan pendidikan perubahan iklim: Bagaimana cara yang efektif?Dian Fikriani, Monash University
Saat kesalahan karya ilmiah dibiarkan: Penerbit tetap untung, publik yang rugiDouglas Sheil, Wageningen University dan Erik Meijaard, University of Kent
Ketika publik tak lagi percaya ahli, bagaimana memulihkan Indonesia dari krisis kepakaran?Arief Anshory Yusuf, Universitas Padjadjaran
Sekadar tahu sains terbuka tidak cukup untuk mencegah perilaku riset tidak etisAbdul Hadi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Akses jurnal ilmiah perlu dipermudah untuk bentuk ekosistem pengetahuan nasionalIlham Akhsanu Ridlo, Universitas Airlangga
Kontroversi penulis dan ‘reviewer’ AI dalam penerbitan karya ilmiahRohmatulloh, Universitas Islam An Nur Lampung
Terjemahan yang mustahil: Mengapa beberapa kata sulit dialihbahasakanMark W. Post, University of Sydney
Semakin banyak menguasai bahasa, semakin kecil risiko penuaan diniElga Ahmad Prayoga, La Rochelle Université
‘Nyahroni’ dan ‘rakyat jelita’: Ekspresi politik kaum muda Indonesia lewat kreativitas bahasaNurenzia Yannuar, Universitas Negeri Malang
“Siap, Ndan!”: Bahaya penggunaan bahasa militeristik dalam kehidupan sehari-hariBilly Nathan Setiawan, CQUniversity Australia
Survei membuktikan, mayoritas dosen Indonesia alami kekerasan di kampusDian Noeswantari, Universitas Surabaya
3 alasan pendidikan di Indonesia belum berhasil memerdekakan manusiaRizma Afian Azhiim, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
#JanganJadiDosen: mengapa gaji dosen tak sebanding dengan beban pekerjaannya?Muammar Syarif, The ConversationDengar selengkapnya
Cek Fakta: benarkah guru swasta yang diangkat jadi PPPK otomatis berubah status menjadi guru negeri?Hayu Rahmitasari, The Conversation
Tanaman obat Alor: Warisan tradisi lisan dan sains lokalFrancesco Perono Cacciafoco, Xi'an Jiaotong-Liverpool University
Popularitas lagu ‘Gus Dur (Pendekar Rakyat)’: Cap pahlawan tidak harus datang dari negaraAnwar Kurniawan, Institut Seni Indonesia Surakarta
Alkitab sedikit menceritakan masa kecil Yesus, tapi umat kristen abad pertengahan menikmati kisah yang menggambarkannya sebagai sosok suci yang “nakal”Mary Dzon, University of Tennessee
Apa yang membuat sebuah lagu terdengar “bernuansa Natal”? Ini penjelasan musikologSamuel J Bennett, Nottingham Trent University
Memahami tren populisme dan otoritarianisme melalui pemikiran Hannah ArendtMartinus Ariya Seta, Universitas Sanata Dharma
Tan Malaka untuk pemula: Sejauh mana kita bisa mempercayai mitos?Dominikus Sukristiono, Universitas Sanata Dharma
Nasionalisme dalam sepak bola menurut teori filsafat permainanMartinus Ariya Seta, Universitas Sanata Dharma
Budaya sungkan dan basa-basi menghambat komunikasi orang dengan autismeNirma Yossa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Afifah Muharikah, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Ingatan tsunami, ujian Senyar: Bagaimana memaksimalkan peran kampus dalam situasi bencanaSyamsidik, Universitas Syiah Kuala dan Alfi Rahman, Universitas Syiah Kuala
Cerita dari Banda Aceh: Ketika warung kopi menjadi ruang ketahanan sosial saat bencanaRizanna Rosemary, Universitas Syiah Kuala dan Alfi Rahman, Universitas Syiah Kuala