Program ‘gentengisasi’ Prabowo: Apakah atap estetik menjawab masalah panas kota?Rendy Bayu Aditya, Universitas Gadjah Mada dan Aisyah Zakiah, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Jangan asal cepat, membangun huntara dan huntap bagi penyintas banjir Sumatra perlu memperhatikan 3 hal iniAsmaul Husna, Universitas Syiah Kuala
Setop bilang ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ ke ChatGPT bisa selamatkan Bumi? Faktanya tak sesederhana ituRichard Morris, Lincoln University, New Zealand
Cabut izin perusahaan saja tak bisa pulihkan Sumatra. Tata kelola lingkungan mendesak harus dibenahiYogi Setya Permana, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Bumi makin terancam jika Trump tetap ingin mengeruk dan menguasai GreenlandPaul Bierman, University of Vermont
Bagaimana agar dana iklim global benar-benar mengalir sampai ke tapakAbimanyu Arya Atmaja Abdullah, Universitas Gadjah Mada
COP 30: 5 alasan konferensi iklim PBB gagal menepati janji sebagai ‘COP rakyat’Simon Chin-Yee, UCL; Mark Maslin, UCL, dan Priti Parikh, UCL
COP 30 di Brasil mencerminkan krisis tata kelola iklim globalArmando Alvares Garcia Júnior, UNIR - Universidad Internacional de La Rioja
Membaca ‘second NDC’: Apa jadinya kalau target iklim menyesuaikan pertumbuhan ekonomi?Dewi N. Piliang, The Conversation
COP 30: RI jualan karbon lagi? Lihatlah kasus kegagalan sistemik pasar globalDenny Gunawan, UNSW Sydney
Risiko besar di balik ‘gula-gula’ menjajal pasar karbon duniaViky Arthiando Putra, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dan Fiorentina Refani, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)
Siklon yang ‘lemah’ kini bisa memicu banjir mematikan: Dampak nyata perubahan iklim dan pemanasan lautLigin Joseph, University of Southampton
Ketika kota makin panas dan orang miskin jadi korban utama, pemerintah di mana?Nimas Maninggar, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
‘Jatah’ emisi karbon kita tinggal 3 tahun lagi, studi baru peringatkan dunia kehabisan waktu mengatasi dampak terburuk krisis iklimPiers Forster, University of Leeds dan Debbie Rosen, University of Leeds
Riset: Pembersihan polusi udara di Cina dan Asia Timur kemungkinan jadi pemicu utama suhu Bumi semakin memanasLaura Wilcox, University of Reading dan Bjørn H. Samset, Center for International Climate and Environment Research - Oslo
Paradoks geotermal: Antara ditolak dan dibutuhkanPutra Hanif Agson Gani, UNSW Sydney dan Debby Ramadhani
4 salah kaprah besar soal isu kendaraan listrik dan tambang nikel di IndonesiaFikri Muhammad, Climateworks Centre dan Dinda Ayu Maharani, Climateworks Centre
RI siap bangun pembangkit nuklir, bagaimana mitigasi pembuangan limbahnya?Harya Dwi Nugraha, Universitas Pertamina
Ketegangan geopolitik global harusnya jadi alarm mempercepat transisi energi, kenapa RI masih pilih impor?Denny Gunawan, UNSW Sydney; Ari Pasek, Institut Teknologi Bandung; James Christian, UNSW Sydney, dan Wibawa Hendra Saputera
Riset: Pensiun dini PLTU batubara justru berdampak positif bagi perekonomian nasionalFiorentina Refani, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)
Wacana Danantara mendanai proyek batu bara dibayangi besarnya risiko keuangan dan lingkunganFabby Tumiwa, Institute for Essential Services Reform
Main api perpanjangan PLTU ASEAN dengan penangkapan karbonLay Monica, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dan Panji Kusumo, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)
6 cara melepas jerat batu bara Indonesia secara bertahapAkbar Bagaskara, Institute for Essential Services Reform
Reptil kerap diabaikan dan diperlakukan semena-mena. Begini cara merawat mereka dengan lebih baikAlicia Bartolomé, Universitat de València
Riset: Sapi Indonesia punya jejak DNA banteng liar, tertinggi di sapi maduraSabhrina Gita Aninta, University of Copenhagen; Bambang Purwantara, dan Muhammad Agil, IPB University
Temuan riset: Mayoritas hiu paus di Kepala Burung Papua dalam kondisi terlukaEdy Setyawan, Elasmobranch Institute Indonesia
Riset: Populasi hewan langka anoa dan babirusa di pulau kecil lebih tangguh, meski jumlahnya sedikitSabhrina Gita Aninta, University of Copenhagen
Tambang nikel di Raja Ampat ancam habitat hewan langka pari mantaEdy Setyawan, Elasmobranch Institute Indonesia
Riset temukan cara pulihkan mangrove dan tambak udang sekaligusMuhammad Ilman, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Aji wahyu Anggoro, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN)
‘Mang Oge’ dan usaha warga Muara Gembong buktikan hilirisasi mangrove bisa janjikan cuanKevin Muhamad Lukman, Universitas Padjadjaran
Model baru restorasi agar tambak udang bisa berdampingan dengan pemulihan mangroveMuhammad Ilman, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Aji wahyu Anggoro, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN)
Lahan gambut dan mangrove adalah ekosistem kaya karbon yang harus dilindungi untuk mitigasi perubahan iklimSigit Sasmito, James Cook University; Dan Friess, Tulane University; David Taylor, National University of Singapore; Massimo Lupascu, National University of Singapore; Pierre Taillardat, Nanyang Technological University; Susan Elizabeth Page, University of Leicester, dan Wahyu Catur Adinugroho, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Restorasi bukan lomba menumbuhkan terumbu karang, pemulihan ekosistem yang harus jadi prioritasDr. Zach Boakes, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Tries Blandine Razak, IPB University
Riset: Terumbu karang yang rusak akibat bom ikan sulit pulih alami, bahkan setelah puluhan tahunSatrio Hani Samudra, UCL dan Tries Blandine Razak, IPB University
Estetika penting untuk konservasi, riset buktikan keindahan terumbu karang bisa diukur dan dipulihkanTim Lamont, Lancaster University; Gita Alisa, IPB University, dan Tries Blandine Razak, IPB University
Alasan tanggul laut raksasa pantura bukan solusi yang dibutuhkan masyarakatAris Ismanto, Universitas Diponegoro
Setahun Prabowo: Mengulang 3 dekade kegagalan ‘food estate’Rahmad Supriyanto, Center for Indonesian Policy Studies dan Aditya Alta, Center for Indonesian Policy Studies
Hutan wakaf: Warisan hijau untuk masa depan kelestarian alam dan pemberdayaan masyarakatSavran Billahi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Praktik agroforestri belum efektif memulihkan hutan lindung: Studi di LampungRommy Qurniati, Universitas Lampung; Firdasari, Universitas Lampung; Machya Kartika Tsani, Universitas Lampung; Septi Nurul Aini, Universitas Lampung, dan Slamet Budi Yuwono, Universitas Lampung
Program ‘food estate’ yang harmonis dengan lingkungan dan masyarakat adat: bagaimana caranya?Jatna Supriatna, Universitas Indonesia
Gaya hidup orang kaya boros energi, tapi orang miskin yang menanggung dampaknya: Di mana keadilan iklim?Stanislaus Risadi Apresian, Universitas Katolik Parahyangan
Jejak karbon Spotify semakin besar sejak pakai fitur video musikHussein Boon, University of Westminster
Bagaimana ‘booming’ tren bersepeda pecah lalu meredupAngga Marditama Sultan Sufanir, Politeknik Negeri Bandung
Beli produk ‘hijau’? Tetap waspada jebakan gimik ‘greenwashing’Watumesa A. Tan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
‘Islam Hijau’: Bagaimana umat Muslim memimpin aksi lingkungan di berbagai penjuru duniaEva F Nisa, Australian National University dan Faried F Saenong, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Kampanye lingkungan bagi Gen Z: Perlu contoh nyata, bukan perintah apalagi ceramahFX Ari Agung Prastowo, Universitas Padjadjaran
Bagaimana mengubah ‘eco-anxiety’ kita menjadi aksi untuk Bumi?Rian Mantasa Salve Prastica, The University of Queensland dan Snezana Swasti Brodjonegoro, The University of Queensland
‘Green mosque’: Masjid sebagai agen aksi mitigasi perubahan iklimKhalid Walid Djamaludin, University of Latvia
Bagaimana sains warga membantu dokumentasi keanekaragaman hayati di desa-desa terpencil KalimantanErik Meijaard, University of Kent dan Emily Meijaard
Program imbalan untuk melepas hiu dan pari: Antara risiko dan harapan untuk konservasiHollie Booth, University of Oxford
Pari manta karang lebih sering beredar di luar kawasan konservasi, riset ungkap sejumlah area habitat baruEdy Setyawan, Elasmobranch Institute Indonesia
Biodiversitas di ambang kritis, PR besar strategi konservasi pemerintahan Prabowo-GibranArdiantiono, University of Kent
PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyataKaveh Madani, United Nations University
Cuaca makin ekstrem, saatnya rombak sistem tata kelola air kitaMuhammad Hakiem Sedo Putra, Institut Teknologi Sumatera
Merawat air, merebut ruang hidup: kisah aksi warga empat kotaYesaya Sandang, Universitas Kristen Satya Wacana; Bagas Yusuf Kausan, Universitas Gadjah Mada ; Bosman Batubara, Utrecht University, dan Eka Handriana, Universitas Gadjah Mada
Bagaimana industri air kemasan menyembunyikan krisis air globalZeineb Bouhlel, United Nations University dan Vladimir Smakhtin, United Nations University
‘Sinkhole’ fenomena alam yang wajar. Apakah bisa membesar hingga jadi danau?Dian Fiantis, Universitas Andalas
Musim hujan masih berlanjut, kapan Indonesia akan memasuki masa kemarau?Linda Handayani, Universitas Jambi; Dasapta Erwin Irawan, Institut Teknologi Bandung, dan Rusmawan Suwarman, Institut Teknologi Bandung
Mengapa kemarau telat datang tapi fenomena ‘bediding’ tetap terasa?Agita Vivi Wijayanti, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Nurdeka Hidayanto, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
Ancaman racun timbal, pembunuh senyap di sekitar kitaElvita, Indonesian Center for Environmental Law (ICEL)
Setelah temuan parasetamol di Teluk Jakarta, riset temukan obat diabetes terdeteksi di sungai ibu kotaWulan Koagouw, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Pulau Jawa tak layak huni di masa depan jika tambang tidak segera disetopMuhamad Saleh, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)
Tak boleh ada pengecualian, seluruh izin tambang di Raja Ampat dan pulau-pulau kecil harus dicabutSatria Unggul Wicaksana Prakasa, Universitas Muhammadiyah Surabaya
Limbah plastik dari klinik gigi: Kecil di ruang praktik, berdampak besar bagi lingkunganStephani Dwiyanti, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan Watumesa A. Tan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Mengapa target 70% pengurangan sampah plastik laut pada 2025 sulit tercapai?Yulianto Suteja, Universitas Mataram
3 alasan perundingan perjanjian plastik global berakhir tanpa kesepakatanSteve Fletcher, University of Portsmouth dan Antaya March, University of Portsmouth
Riset: Mikroplastik ada di mana-mana, bahkan pada napas lumba-lumbaLeslie Hart, College of Charleston dan Miranda Dziobak, College of Charleston
Indonesia tak lagi bebas siklon, kapan pemerintah serius bangun sistem manajemen bencana?Dewi N. Piliang, The Conversation
Pilu kematian dan kehancuran akibat banjir bandang: Mengapa siklon langka di khatulistiwa dan badai lain melanda selatan AsiaSteve Turton, CQUniversity Australia
Badai siklon tak harus jadi tragedi berulang jika hutan tidak terus dibabatDian Fiantis, Universitas Andalas; Budiman Minasny, University of Sydney, dan Frisa Irawan Ginting, Universitas Andalas
Dari banjir ke banjir, mengapa kita masih gagap menghadapi bencana?Munajat Nursaputra, Universitas Hasanuddin
Membaca ulang tradisi sasi: Antara sejarah, realita, dan harapan untuk konservasiGeger Riyanto, Universitas Indonesia
Integrasi pengetahuan lokal sebagai solusi iklim: Belajar dari masyarakat adat Bayan di LombokGendewa Tunas Rancak, Griffith University
Pranata Mangsa: Kalender musim Jawa yang efektif meningkatkan hasil tani dan mencegah bencanaMuhamad Khoiru Zaki, Universitas Gadjah Mada
Pelajaran iklim dari Karampuang, Sulawesi Selatan: Pendidikan adat, ritual, dan kepemimpinan kolektifA. Hasdiansyah, Universitas Muhammadiyah Parepare ; Andi Jusman Tharihk, Universitas Muhammadiyah Parepare , dan Irmayani
Jejak kejayaan pangan orang Dayak di tanah handil, mungkinkah bisa hidup kembali?Budiyanto Dwi Prasetyo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Perempuan-perempuan Dayak melawan dampak tambang batu bara dengan kebun cabaiAidy Halimanjaya, Universitas Katolik Parahyangan dan Priscillya Hotma, Universitas Padjadjaran
Inisiatif pembangunan ramah lingkungan tanpa meminggirkan perempuan: Cerita dari 7 kotaAidy Halimanjaya, Universitas Katolik Parahyangan
Sisa konflik TPL: Hutan dikembalikan, tapi perempuan masih menanggung beban gandaPerdana Roswaldy, Northwestern University
Hampir separuh masyarakat Indonesia tak mampu beli makanan sehat: Koreksi untuk sistem pangan kitaKasmiati, Universitas Sulawesi Barat
Pangan organik sehat tak harus mahal: Riset dari Bogor membuktikannyaHandoyo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Elfira Rosa Juningsih
Tidak perlu latah negara lain, Indonesia bisa unggul jika fokus pada riset tumbuhanWawan Sujarwo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Kacang lima, pangan lokal super yang potensial membantu penanganan ‘stunting’Rita Maliza, Universitas Andalas
Dilema kaum muda pedesaan: Tak punya tanah, tak ada masa depanDr Christina Griffin, Crawford School of Public Policy, Australian National University; Muhammad Alif K. Sahide, Universitas Hasanuddin; Nurhady Sirimorok, Universitas Hasanuddin, dan Wolfram Dressler, The University of Melbourne
Pesan-antar makanan memperburuk polusi dan kemacetan perkotaan: 2 solusi untuk meredamnyaBudhi Sholeh Wibowo, Universitas Gadjah Mada
Ruang hijau kecil dapat membantu menjaga suhu kota tetap sejuk selama gelombang panasLingshan Li, Concordia University