Kala rumah menjadi penjara: Menelusuri trauma dan ruang isolasi baru korban karhutlaRhino Ariefiansyah, Universitas Indonesia dan Khalid Walid Djamaludin, University of Latvia
Banyak peluang pajak berbasis lingkungan, kenapa belum optimal?Aldiles Vindi Septian, Komite Pengawas Perpajakan
Patungan hutan ala Ferry Irwandi: Solusi atau gagal paham akar masalah karhutla?Klara Esti, Centre for Innovation Policy and Governance dan Pantoro Tri Kuswardono, PIKUL (Penguatan Lingkar Belajar Komunitas Lokal)
Bagaimana cara melindungi diri kita dari asap karhutla yang membahayakan kesehatan?Colleen E. Reid, University of Colorado Boulder
Batik hijau lebih ramah lingkungan, tapi sudah lebih adilkah bagi pekerja perempuan?Atin Prabandari, Universitas Gadjah Mada dan Fina Itriyati, Universitas Gadjah Mada
Indonesia sulit bangun industri hijau jika kebijakan masih tak selarasBrurce Muhammad Mecca, Monash University
Krisis air terjadi di banyak daerah, menambah beban berat di pundak perempuanDesytha Rahma Dwi Utami Adhiputri, IPB University
Karhutla Kalimantan adalah drama berulang akibat kegagalan kita melindungi tanahFrisa Irawan Ginting, Universitas Andalas dan Dian Fiantis, Universitas Andalas
Mimpi Prabowo bangun PLTS 100 GW tidak mustahil, tapi catatannya segudangDewi N. Piliang, The Conversation
Mengulang pola di Sumatra dan Kalimantan, Papua Selatan tunjukkan gejala jadi episentrum kebakaran baruSofyan Ansori, Universitas Indonesia
Mengadang El Niño, meredam karhutla: Restorasi gambut harus berlanjut meski BRGM bubarResti Salmayenti, University of Leeds; IPB University
Menghadapi super el niño 2026: mengapa kolaborasi dengan warga lebih ampuh ketimbang instruksi terpusat padamkan karhutla?Rijal Ramdani, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Ketika PLTU Cirebon-1 batal ditutup, bukti kegagalan model pendanaan iklim global?Freddie Daley, University of Sussex dan Charlie Lawrie, University of Sussex
Angin segar dari TAFF Santa Marta: Ini 5 hasil dari konferensi dunia pertama tentang penghentian bahan bakar fosilWesley Morgan, UNSW
Riset: Strategi ‘kartel’ batu bara dan menyetop izin tambang baru bisa jadi jalan tengah percepat transisi energiJonathan Symons, Macquarie University dan Chris Wright, Macquarie University
Cuma janji manis: Mengapa triliunan dana negara maju belum berdampak ke transisi energi Indonesia?Nikita Sud, University of Oxford
Mengapa masih banyak orang yang pasrah merespons bencana?Muhammad Thaufan Arifuddin, Universitas Andalas
Para ilmuwan baru saja menghapus skenario iklim terburuk—tanda aksi iklim mulai membuahkan hasilAndrew King, The University of Melbourne
Ketika kota makin panas dan orang miskin jadi korban utama, pemerintah di mana?Nimas Maninggar, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Program ‘gentengisasi’ Prabowo: Apakah atap estetik menjawab masalah panas kota?Rendy Bayu Aditya, Universitas Gadjah Mada dan Aisyah Zakiah, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Pelajaran aksi iklim 3 desa: Transisi energi harus berjalan bersama perlindungan lanskap dan ekonomi alternatifAidy Halimanjaya, Universitas Katolik Parahyangan
Serangan ke Iran semakin menegaskan betapa mendesak kita beralih dari bahan bakar minyak bumiHussein Dia, Swinburne University of Technology
Riset: Proyek geotermal di sejumlah daerah lanjut terus meski banyak melanggar HAMSahid Hadi, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan Heronimus Heron
Derita warga sekitar PLTS Cirata: Bak layangan putus tanpa kepastian sumber nafkahIrfan Nugraha, Universitas Indonesia
Narasi “kebangkitan batu bara” bermunculan efek perang Iran, tapi data menunjukkan fakta sebaliknyaDewi N. Piliang, The Conversation
Riset: Pensiun dini PLTU batubara justru berdampak positif bagi perekonomian nasionalFiorentina Refani, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)
Wacana Danantara mendanai proyek batu bara dibayangi besarnya risiko keuangan dan lingkunganFabby Tumiwa, Institute for Essential Services Reform
Main api perpanjangan PLTU ASEAN dengan penangkapan karbonLay Monica, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dan Panji Kusumo, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)
Studi terbaru: Orangutan Tapanuli digempur banyak ancaman sekaligus, populasinya terus berkurangRachakonda Sreekar, The University of Queensland; Ardiantiono, University of Wisconsin-Madison, dan Lubabun Ni'am, University of Heidelberg
Riset satu dekade: Migrasi hiu paus Indo-Pasifik lintasi 13 negara dengan pola tak seragamMochamad Iqbal Herwata Putra, Konservasi Indonesia dan Edy Setyawan, Elasmobranch Institute Indonesia
Tapir disembelih warga Mesuji: Kapan kita paham bahwa melindungi hewan berarti melindungi manusia?M. Ikhsan Shiddieqy, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Peneliti Indonesia berhasil kembangkan metode eDNA untuk temukan keberadaan hiu berjalan endemik di Raja AmpatEdy Setyawan, Elasmobranch Institute Indonesia dan Danang Ambar Prabowo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Komodo bakal ‘dipinjamkan’ ke Jepang, menakar risiko satwa endemik jadi ‘alat diplomasi’M. Ikhsan Shiddieqy, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Riset temukan cara pulihkan mangrove dan tambak udang sekaligusMuhammad Ilman, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Aji wahyu Anggoro, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN)
‘Mang Oge’ dan usaha warga Muara Gembong buktikan hilirisasi mangrove bisa janjikan cuanKevin Muhamad Lukman, Universitas Padjadjaran
Model baru restorasi agar tambak udang bisa berdampingan dengan pemulihan mangroveMuhammad Ilman, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Aji wahyu Anggoro, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN)
Lahan gambut dan mangrove adalah ekosistem kaya karbon yang harus dilindungi untuk mitigasi perubahan iklimSigit Sasmito, James Cook University; Dan Friess, Tulane University; David Taylor, National University of Singapore; Massimo Lupascu, National University of Singapore; Pierre Taillardat, Nanyang Technological University; Susan Elizabeth Page, University of Leicester, dan Wahyu Catur Adinugroho, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Riset: Banyak penyelam remehkan dampak scuba diving bagi terumbu karangRonan Roche, Bangor University dan Bing Lin, University of Sydney
Riset dua dekade tunjukkan terumbu karang kita cukup tahan panas, tapi ketahanan ini ada batasnyaTries Blandine Razak, IPB University
Restorasi bukan lomba menumbuhkan terumbu karang, pemulihan ekosistem yang harus jadi prioritasDr. Zach Boakes, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Tries Blandine Razak, IPB University
Angka deforestasi meningkat, bayang-bayang krisis dan bencana mengintaiDian Fiantis, Universitas Andalas
Setahun Prabowo: Mengulang 3 dekade kegagalan ‘food estate’Rahmad Supriyanto, Center for Indonesian Policy Studies dan Aditya Alta, Center for Indonesian Policy Studies
Hutan wakaf: Warisan hijau untuk masa depan kelestarian alam dan pemberdayaan masyarakatSavran Billahi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Praktik agroforestri belum efektif memulihkan hutan lindung: Studi di LampungRommy Qurniati, Universitas Lampung; Firdasari, Universitas Lampung; Machya Kartika Tsani, Universitas Lampung; Septi Nurul Aini, Universitas Lampung, dan Slamet Budi Yuwono, Universitas Lampung
Gaya hidup orang kaya boros energi, tapi orang miskin yang menanggung dampaknya: Di mana keadilan iklim?Stanislaus Risadi Apresian, Universitas Katolik Parahyangan
Jejak karbon Spotify semakin besar sejak pakai fitur video musikHussein Boon, University of Westminster
Bagaimana ‘booming’ tren bersepeda pecah lalu meredupAngga Marditama Sultan Sufanir, Politeknik Negeri Bandung
Beli produk ‘hijau’? Tetap waspada jebakan gimik ‘greenwashing’Watumesa A. Tan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
‘Islam Hijau’: Bagaimana umat Muslim memimpin aksi lingkungan di berbagai penjuru duniaEva F Nisa, Australian National University dan Faried F Saenong, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Kampanye lingkungan bagi Gen Z: Perlu contoh nyata, bukan perintah apalagi ceramahFX Ari Agung Prastowo, Universitas Padjadjaran
Bagaimana mengubah ‘eco-anxiety’ kita menjadi aksi untuk Bumi?Rian Mantasa Salve Prastica, The University of Queensland dan Snezana Swasti Brodjonegoro, The University of Queensland
‘Green mosque’: Masjid sebagai agen aksi mitigasi perubahan iklimKhalid Walid Djamaludin, University of Latvia
Karhutla hanguskan kekayaan genetika Indonesia yang tak bisa dipulihkanHapiz Al Khairi, Universitas Gadjah Mada
UU Konservasi buka jalan rebut lahan warga lewat modus baru, termasuk pariwisataFahrurozy Darmawan, Universitas Pancasila
Mengapa konflik manusia – gajah terus berulang? Pelajaran penting dari Way KambasHilman T Sukma, University of Manchester
Bagaimana sains warga membantu dokumentasi keanekaragaman hayati di desa-desa terpencil KalimantanErik Meijaard, University of Kent dan Emily Meijaard
Bisakah pariwisata terus tumbuh tanpa mengorbankan ketahanan air?Yesaya Sandang, Universitas Kristen Satya Wacana dan Stroma Cole, University of Westminster
Setelah PAMSIMAS berhenti: Mengapa layanan air perdesaan tak jadi prioritas seperti MBG dan Kopdes?Daniel, Universitas Gadjah Mada
PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyataKaveh Madani, United Nations University; Yale University
Merawat air, merebut ruang hidup: kisah aksi warga empat kotaYesaya Sandang, Universitas Kristen Satya Wacana; Bagas Yusuf Kausan, Universitas Gadjah Mada ; Bosman Batubara, Utrecht University, dan Eka Handriana, Universitas Gadjah Mada
PSN tambak udang di Kebumen rusak ekosistem pesisir, akan terulang juga di Sumba Timur?M. Afiqul Adib, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Muh Farhan, Universitas Nusa Cendana
Setelah temuan parasetamol di Teluk Jakarta, riset temukan obat diabetes terdeteksi di sungai ibu kotaWulan Koagouw, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Pulau Jawa tak layak huni di masa depan jika tambang tidak segera disetopMuhamad Saleh, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)
Tak boleh ada pengecualian, seluruh izin tambang di Raja Ampat dan pulau-pulau kecil harus dicabutSatria Unggul Wicaksana Prakasa, Universitas Muhammadiyah Surabaya
Negara berutang pada pemulung atasi persoalan sampah, sudah saatnya membayar jasa lingkungan merekaDicky Indirwan, Universitas Negeri Makassar
Limbah plastik dari klinik gigi: Kecil di ruang praktik, berdampak besar bagi lingkunganStephani Dwiyanti, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan Watumesa A. Tan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Mengapa target 70% pengurangan sampah plastik laut pada 2025 sulit tercapai?Yulianto Suteja, Universitas Mataram
Riset: Mikroplastik ada di mana-mana, bahkan pada napas lumba-lumbaLeslie Hart, College of Charleston dan Miranda Dziobak, College of Charleston
Indonesia tak lagi bebas siklon, kapan pemerintah serius bangun sistem manajemen bencana?Dewi N. Piliang, The Conversation
Pilu kematian dan kehancuran akibat banjir bandang: Mengapa siklon langka di khatulistiwa dan badai lain melanda selatan AsiaSteve Turton, CQUniversity Australia
Badai siklon tak harus jadi tragedi berulang jika hutan tidak terus dibabatDian Fiantis, Universitas Andalas; Budiman Minasny, University of Sydney, dan Frisa Irawan Ginting, Universitas Andalas
Dari banjir ke banjir, mengapa kita masih gagap menghadapi bencana?Munajat Nursaputra, Universitas Hasanuddin
Menelusuri jejak leluhur masyarakat suku Ngada di Flores lewat bambuBudiyanto Dwi Prasetyo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Handoyo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Bagaimana agar pengetahuan obat tradisional orang Berbak Jambi tidak punahArfan, Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin
Membaca ulang tradisi sasi: Antara sejarah, realita, dan harapan untuk konservasiGeger Riyanto, Universitas Indonesia
Integrasi pengetahuan lokal sebagai solusi iklim: Belajar dari masyarakat adat Bayan di LombokGendewa Tunas Rancak, Griffith University
Pranata Mangsa: Kalender musim Jawa yang efektif meningkatkan hasil tani dan mencegah bencanaMuhamad Khoiru Zaki, Universitas Gadjah Mada
Hidup di zona konsesi: Ketika warga ibarat nyamuk dalam perekonomian berbasis SDA IndonesiaGeger Riyanto, Universitas Indonesia
Perempuan-perempuan Dayak melawan dampak tambang batu bara dengan kebun cabaiAidy Halimanjaya, Universitas Katolik Parahyangan dan Priscillya Hotma, Universitas Padjadjaran
Sisa konflik TPL: Hutan dikembalikan, tapi perempuan masih menanggung beban gandaPerdana Roswaldy, Northwestern University
Hampir separuh masyarakat Indonesia tak mampu beli makanan sehat: Koreksi untuk sistem pangan kitaKasmiati, Universitas Sulawesi Barat
Pangan organik sehat tak harus mahal: Riset dari Bogor membuktikannyaHandoyo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Elfira Rosa Juningsih
Tidak perlu latah negara lain, Indonesia bisa unggul jika fokus pada riset tumbuhanWawan Sujarwo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Kacang lima, pangan lokal super yang potensial membantu penanganan ‘stunting’Rita Maliza, Universitas Andalas
Mancing ikan: Terapi tetap waras di tengah tekanan hidup yang melelahkanDicki Mahardika, The ConversationDengar selengkapnya
Dilema kaum muda pedesaan: Tak punya tanah, tak ada masa depanDr Christina Griffin, Crawford School of Public Policy, Australian National University; Muhammad Alif K. Sahide, Universitas Hasanuddin; Nurhady Sirimorok, Universitas Hasanuddin, dan Wolfram Dressler, The University of Melbourne
Pesan-antar makanan memperburuk polusi dan kemacetan perkotaan: 2 solusi untuk meredamnyaBudhi Sholeh Wibowo, Universitas Gadjah Mada